Wednesday, July 19, 2017

Posted by . at 4:56 AM 0 comments
KEGIATAN WISATA EDUCATION
TAMAN SAFARI INDONESIA II
Taman Safari Indonesia II adalah salah satu safari park terluas di Asia, yang terletak di lereng Gunung Arjuno, Kecamatan Prigen,Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dengan ketinggian kira-kira 800 meter dpl. Taman Safari II Prigen merupakan lembaga konservasi suaka marga satwa yang menempati areal seluas 340 ha. Taman Safari Inin memiliki berbagai macam spesies hewan dan atraksi terbaik se-Indonesia, kolam renang dengan sistem filter air yang canggih, dan habitat yang tidak rusak dan suasana yang rimbun. Taman Safari Indonesia menjadi tempat wisata yang berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas. Selain itu Taman Safari Indonesia II memiliki slogannya yaitu “Save Our Precious Wild Life”
Taman Safari Indonesia II juga memiliki keunikan dibandingkan dengan kebun binatang pada umumnya. Keunikan itu terletak pada habitat hewan yang dibiarkan hidup di alam bebas seperti di alam liar dan pengunjung dapat menyaksikan kehidupan satwa liar sesuai habitat aslinya, berdasarkan tempat hidupnya dibagi menjadi 4 kawasan yaitu kawasan Kawasan Amerika, Kawasan Afrika, Kawasan Eropa, dan Kawasan Asia. Akan tetapi, agar mereka tidak saling memangsa antar hewan lain mereka tetap ditempatkan dalam areanya masing-masing yang dilengkapi dengan kawat listrik. Kemudian bagi pengunjung yang ingin berkeliling di kawasan Taman Safari Indonesia untuk melihat habitat dan para hewan yang ada disini , pengunjung diwajibkan menggunakan mobil atau bus yang telah disediakan Taman Safari apabila tidak membawa kendaraan sendiri. Selama berkeliling kawasan hewan liar pengunjung dilarang untuk membuka kaca jendela kendaraan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan demi keselamatan.
Adapun contoh pemandangan ketika anda berkeliling di Taman Safari seperti berikut :


Adapun Area di Taman Safari Indonesia II terbagi menjadi tiga Zona, yaitu:
1.      Zona kehidupan Satwa, merupakan tempat untuk satwa liar yang hidup sesuai dengan habitat aslinya Kawasan ini di bagi menjadi 4 berdasarkan tempat hidupnya, yaitu: Kawasan Amerika, Kawasan Afrika, Kawasan Eropa, dan Kawasan Asia. Memasuki kawasan Amerika kamu akan disambut dengan beruang kutub, pemandangan yang menarik karena sebagian besar satwa di sini bebas berkeliaran sesuai dengan habitatnya. Kawasan kedua yaitu kawasan binatang buas. Pengunjung dilarang membuka kaca jendela terdapat sekumpulan harimau, singa sampai buaya. Selanjutnya memasuki Kawasan Asia yang didominasi dengan satwa asli Indonesia. Di kawasan Afrika, kamu bisa menjumpai gajah khas Arika, Zebra Kuda nil dan masih banyak lagi koleksi binatang.

2.      Zona Rekreasi yaitu sebagai tempat untuk menampilkan atraksi dari satwa dan tempat permainan anak-anak, seperti taman rekreasi anak, roller coaster, kereta mini, bom-bom car, maupun puri misteri dengan harga tiket Rp 40,000 dan Rp.10,000 untuk loker setiap permainan.
3.      Zona Baby Zoo sebagai tempat untuk mengenal lebih dekat wisatawan dengan anak satwa liar untuk bermain dan berfoto dengan satwa.


 Wisata Edukasi tentang Manajamen yang ada di Taman Safari Indonesia II
A.    Manajemen Accounting
OOleh Bu Wiwit
Ada beberapa manajeman accounting di taman safari antara lain :
1.      Manajemen Financememiliki tugas mengawasi fungsi manajemen keuangan unit usaha yg ada di TSI II Prigen di bawah pantauan dari TSI Company Pusat.
2.      Finance Controler
Memiliki tugas mengatur jalannya operasional pengelolaan Taman Safari.
3.      Chief IT
Memiliki tugas pembuatan system accounting yang dapat membantu chief Accounting dalam hal pembayaran tiket, pembelian barang di outlate, pembayaran makan pada outlate, biaya sewa resort. Dengan progam tiket, stand, resto,baobab resort.
4.      Chief finance
Memiliki tugas menerima laporan cashier in dan cashier out dari system progam masing” unit product. Dan melaporkan kepada chief  accounting.
5.      Chief Accounting
Memiliki tugas menentukan pengeluaran , book kepper, dan tax unit product.
6.      Purchasing
Memiliki tugas pembelian bahan makanan hewan dan persedian barang retail.
7.      Hotel Chief Accounting
Memiliki tugas mengatur keuangan Resort Baobab Hotel. 

B.     Human Resourch Manajemen
OOleh Bapak Prasetyawan
Taman Safari Indonesia II Prigen, Pasuruan, Jawa timur memiliki asset berupa : gedung, satwa, dan luas tanah 300 hektar. Dan juga pegawai kurang lebih sebanyak 375 pegawai, yang dibagi menjadi beberapa golongan seperti pegawai tetap, freelance, pegawai tambahan. Disetiap tahunnya TSI II Prigen membuka lowongan pekerjaan. HRD TSI II Prigen “Prastiyawan” mengungkapkan bahwa integritas pegawai diutamakan untuk menjadikan pribadi yang dapat melakukan team work yang baik. 
Produk yang ditawarkan oleh Taman Safari :
-Safari Adventure
-Recreation Zone
-Food & Beverage
-Baobab Safari Resort
C.     Sales Marketing
Oleh Tirtasari (Directors of Sales & Marketing)
1.      SALES sebagai penjual produk dan jasa.
Yang tugas utamanya :
a.       Melakukan kunjungan ke klien
b.      Melakukan Telemarketing
c.       Membuat Proposal Penawaran
d.      Melakukan Follow up atas lead – lead yang didapat
e.       Memastikan semua kebutuhan customer terpenuhi sesuai kesepakatan
2.      MARKETING bertugas memasarkan produk dan jasa.
Yang tugas utamanya :
a.       Menjalin kerjasama dengan pihak kedua YANG AKAN MENDUKUNG terjadinya PENJUALAN
b.      Melakukan kegiatan – kegiatan yang langsung berinteraksi dengan customer
c.       Mengadakan event – event yang akan mendatangkan pengunjung
3.      MARKETING COMMUNICATION sebagai orang yang mengkomunikasikan Brand.
Yang tugas utamanya :
a.       Menciptakan brand character
b.      Membangun brand image
c.       Mengkomunikasikan brand ke khalayak dengan berbagai cara, misal media advertising, social media, website.
D.      Manajemen Ahli Nutrisi Satwa Liar
Oleh Drh.,M.Nanang Tejolaksono
Manajemen Ahli Nutrisi Satwa di TSI II Prigen yaitu melakukan evaluasi pada :
ü  Perilaku Satwa Liar
ü  Pakan Alami
ü  Ketersediaan Pakan di Eksitu
ü  Kebutuhan Pakan satwa
ü  Kalkulasi menu pakan satwa
ü  Aplikasi dan kombinasi pakan satwa
ü  Jadwal menu pakan satwa
Terakhir untuk penutupan acara di Taman Safari Indonesia Prigen II disuguhkan dengan pertunjukkan Temple of Terror. Apakah itu Temple of Terror? Temple of Terror adalah sebuah pertunjukan drama kolosal yang menceritakan orang-orang jaman dahulu. Jadi disitu ada cerita dan skenario yang harus dimainkan oleh para pemeran-pemerannya yang sudah terlatih untuk melakukan atraksi. Adapun hal yang membuat pengunjung terpukau adalah dengan hadirnya beberapa hewan liar yang ikut tampil dalam pertunjukkan itu seperti tikus, ayam, burung, landak, ular dan lama yang beraksi sesuai dengan alur cerita. Pada pertunjukkan ini menampilkan cerita yang sangat seru. Keseruan itu dapat terlihat dari tempat khusus yang dibuat untuk pertunjukan, yang mirip dengan bangunan lawas jaman dahulu yang berada di tengah hutan dengan dihuni oleh suku rimba, suku primitif yang tidak mengenal kehidupan luar. Tiba-tiba ada tiga orang dari luar yang tidak sengaja masuk ke wilayah mereka. Sontak suku primitif itu kaget dan langsung bersiap-siap  untuk menyerangnya, mempertahankan daerah kekuasaan mereka.
Kemudian,  Kawanan pendatang yang tersesat yang jumlahnya bertiga itupun melawan. Terjadilah sebuah pertempuran. Mereka bertiga  harus melawan sebuah kekuatan suku rimba yang berada sedikit diatasnya. Dan saat pertempuran berlangsung, mereka harus kehilangan satu teman wanitanya karena diculik hingga akhirnya dibawa kabur. Mulailah kawanan pendatang itu mencarinya walau harus menghadapi banyak hambatan dan rintangan. Selanjutnya, perjuangan pemain utama tidak sia-sia. Mereka menemukan teman wanitanya tersebut dalam keadaan disandera. Mereka terus melakukan perlawan kepada para penculik, yang tak lain adalah suku primitif penghuni hutan tadi. Pertempuran terjadi sangat sengit, sampai-sampai para pahlawan pembebas tersebut mengeluarkan beberapa bom yang akhirnya meletus dan menimbulkan api yang sangat luar biasa hingga wajah penonton yang ada di depan kepanasan. Sungguh pertunjukan yang luar biasa.
Satu lagi kejadian yang sangat memukau. Saat sebuah bom dilempar ke dalam sebuah sumur dan tiba-tiba meledak. Sontak air dari dalam sumur muncrat berhamburan hingga mengenai tribun tengah penonton sebelah kiri. Bahkan para penonton kaget bukan kepalang saat tau ternyata mereka dalam keadaan basah.

Lalu, bagaimana akhir ceritanya? Pertempuran masih berlangsung, banyak prajurit suku hutan yang mati hingga kepala suku mereka harus turun tangan sendiri. Dan akhirnya, pertempuran tetap dimenangkan oleh sang penyelamat wanita tadi yang tak lain adalah temannya. Penutupan diakhiri dengan penyelamat dan sang wanita terjun berayun ke arah para penonton. Sungguh pertunjukkan dengan skenario dan penataan ruang dan visualisasi yang mengagumkan.
TERIMAKASIH
BERKUNJUNGLAH KE TAMAN SAFARI

Monday, July 17, 2017

Posted by . at 5:37 AM 1 comments
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

MANAJEMEN INVESTASI DAN PORTOFOLIO






OLEH
RIMA ARUM SASI
15101246/P





SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
2017




A.    DATA HARGA SAHAM
Tabel 1
PT INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk
Sumber : Yahoofinance.com
A.    ANALISIS HARGA SAHAM
Menurut analisis Yufi Mahendra Wardana (2016) menyatakan bahwa  berdasarkan penilaian yang pertama dengan melihat sejarah penjualan, pendapatan, dan arus kas yang meningkat secara konsisten pada perputaran kas PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk menunjukkan dari sisi penjualan INTP tahun 2012 membukukan pendapatan netto sebesar 17.290 milyar rupiah tahun 2013 sebesar 18.691 milyar, tahun 2014 sebesar 19.996 milyar, dan terakhir tahun 2015 sebesar 17.798 milyar. Analisis yang didapat selama 4 tahun terakhir tersebut menunjukkan peningkatan di tahun 2015 karena terjadinya ekonomi global menyebabkan INTP mengalami penurunan pendapatan. Aliran Kas Netto di INTP tahun 2012 adalah sebesar 10.474 milyar, di tahun 2013 adalah 12.545 milyar,tahun 2014 sebesar 11.256 milyar, tahun 2015 8.655 milyar rupiah. Terlihat setelah tahun 2013 mengalami penurunan arus kas setara kas.
Berdasarkan data Analisis harga saham oleh Corporate Finance saham INTP  di tahun 2013 mengalami penurunan disebabkan karena adanya keterbatasan kapasitas produksi, sehingga penjualan dan laba bersih yang diperoleh perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk ikut mengalami penurunan.
 Berdasarkan berita bareksa.com saham INTP mengalami kenaikan di tahun 2014 dikarenakan peningkatan rasio pembayaran dividen yang mencapai hingga 94 persen dari laba tahun 2014 Rp5,2 triliun dengan membagikan hampir seluruh laba yang diperoleh tahun lalu menjadi deviden untuk pertama kalinya sejak mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia.
Pada tahun 2015 INTP mengalami  penurunan harga saham dikarenakan adanya kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga semen maksimal Rp 3.000/sak, dimana kebijakan pemerintah hanya berlaku di perusahaan Semen Indonesia. Pemerintah merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan Semen Indonesia, dan perusahaan Semen Indonesia merupakan perusahaan yang menjadi patokan harga jual perusahaan semen-semen yang ada di Indonesia. Jadi, apabila harga jual semen di perusahaan Semen Indonesia turun, perusahaan semen lainnya yang ada di Indonesia juga harus menurunkan harga jualanya, tak terkecuali perusahaan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Apabila harga semen turun dapat menyebabkan pendapatan penjualan dan laba bersih ikut menurun. Selain itu, faktor harga BBM dan listrik yang naik juga mempengaruhi harga semen menjadi tinggi yang membuat daya beli masyarakat menjadi berkurang, sehingga harga saham INTP menurun.
Sedangkan berdasarkan warta ekonomi di tahun 2016 saham INTP turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya dikarenakan penurunan penjualan disebabkan kelebihan pasokan (over supply) sehingga membuat harga jual produk Indocement turun cukup drastis. Selain itu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) membukukan penurunan penjualan domestik sebesar 3,7 persen menjadi 7,9 ton. Hal tersebut disebabkan lesunya permintaan akan semen di tanah air.
B.     Daftar Pustaka
https://corporatefinancemanagement.wordpress.com/2015/10/25/pt-indocement-tunggal-prakarsa-tbk/ (diakses pada 12 Juli 2017)
http://wartaekonomi.co.id/read108605/ini-sebab-penjualan-indocement-turun.html (diakses pada 15 Juli 2017)

Tuesday, June 13, 2017

UKURAN KINERJA SAHAM

Posted by . at 6:31 PM 0 comments
Adapun Gambaran Rumus dari Ukuran Kinerja Saham (Portofolio)

Terdapat 3 jenis ukuran yaitu :
1. Pengukuran Treynor
Jack L. Treynor adalah orang pertama yang menyediakan pengukur komposit kinerja portofolio yang juga memperhitungkan risiko. Tujuan Treynor adalah menemukan ukuran kinerja yang dapat diaplikasikan kepada seluruh investor, tidak mempedulikan preferensi risiko personal. Ia menyarankan bahwa ada komponen risiko, yakni  risiko yang dihasilkan dari fluktuasi di pasar dan risiko yang muncul dari fluktuasi sekuritas individual.

Treynor memperkenalkan konsep garis pasar sekuritas, yang mendefinisikan hubungan antara hasil portofolio dan tingkat hasil pasar, dimana kemiringan garis mengukur volatilitas relatif antara portofolio dan pasar (yang diwakili dengan beta). Koefisien beta secara sederhana mengukur volatilitas saham, portofolio atau pasar itu sendiri. Semakin besar kemiringan garis, semakin baik tradeoff risiko-hasil.


Pengukuran Treynor, juga dikenal sebagai imbalan kepada rasio volatilitas, dapat dengan mudah didefinisikan sebagai: 



          Hasil Portofolio – Tingkat Bebas-Risiko) / Beta



Pembilang mengidentifikasi premium risiko dan denominator berkaitan dengan risiko portofolio. Nilai yang dihasilkan menampilkan hasi portofolio per unit risiko.



Untuk lebih memahami bagaimana cara bekerjanya, anggaplah hasil tahunan S&P 500 (portofolio pasar) adalah 10%, sedangkan rata-rata hasil tahunan Treasury bills (contoh baik tentang tingkat bebas risiko) adalah 5%. Kemudian asumsikan Anda mengevaluasi tiga portofolio manajer yang berbeda dengan hasil 10 tahun sebagai berikut:



Manajer


Rata-rata Hasil Tahunan


Beta


Manajer A


10 %


0,90


Manajer B


14 %


1,03


Manajer C


15 %


1,20

1.    Kini, Anda dapat menghitung nilai Treynor masing-masing, sebagai berikut:

T (pasar) = (0,10 - 0,05) / 1 = 0,056
T (manager A) = (0,10 - 0,05) / 0,90 = 0,056
T (manager B) = (0,14 - 0,05) / 1,03 = 0,087
T (manager C) = (0,15 - 0,05) / 1,20 = 0,083
SSemakin tinggi ukuran Treynor, semakin baik portofolio. Mungkin Anda pernah mengevaluasi manajer portofolio (atau portofolio) hanya berdasarkan kinerja,  dan secara tidak sengaja mengidentifikasi Manajer C memberikan hasil yang terbaik. Kendati demikian, ketika mempertimbangkan risiko yang diambil masing-masing manajer untuk memperoleh hasil mereka masing-masing, Manajer B menunjukkan hasil yang lebih baik. Dalam kasus ini, ketiga manajer itu berkinerja lebih baik daripada pasar agregat.


Karena pengukuran ini hanya memperhitungkan risiko sistematik, maka diasumsikan bahwa investor sudah mempunyai portofolio yang terdiversifikasi dengan baik dan, oleh karena itu, risiko tidak sistematik (atau risio yang dapat didiversifikasi) tidaklah dipertimbangkan. Akibatnya, pengukuran kinerja ini sebaiknya hanya digunakan oleh investor yang memiliki portofolio yang terdiversifikasi.


2.  Pengukuran Sharpe


Rasio Sharpe hampir identik dengan pengukuran Treynor, kecuali bahwa pengukuran risiko adalah standar deviasi portofolio, bukan mempertimbangkan risiko sistematik, yang ditampilkan oleh beta. Pengukuran yang diperkenalkan oleh Bill Sharpe ini, terkait erat dengan pekerjaannya pada model penetapan harga aset modal (capital asset pricing model/CAPM) dan diperjelas dengan menggunakan risiko total untuk membandingkan portofolio terhadap garis pasar modal.


Rasio Sharpe didefinisikan sebagai berikut:

          (Hasil Portofolio – Tingkat Bebas Risiko) / Standar Deviasi

Dengan menggunakan contoh Treynor di atas, dan asumsi bahwa S&P 500 mempunyai standar deviasi 18% selama periode 10 tahun, mari kita hitung rasio Sharpe untuk portofolio masing-masing manajer berikut ini:


Manager


Hasil Tahunan


Devisiasi Standar Portofolio

Manajer X

14%

0,11

Manajer Y

17%

0,20

Manajer Z

19%

0,27


S(market) = (0,10 - 0,5) / 0,18 = 0,278
S(manajer X) = (0,14 - 0,05) / 0,11 = 0,818
S(manajer Y) = (0,17 - 0,05) / 0,20 = 0,600
S(manajer Z) = (0,19 - 0,05) / 0,27 = 0,519

Sekali lagi, kita menemukan bahwa portofolio terbaik tidak harus memiliki hasil yang tertinggi. Sebaliknya, portofolio dengan hasil risiko disesuaikan (risk-adjusted return) paling superior, atau dalam kasus ini dana yang dikelola oleh manajer X.


Tidak seperti pengukuran Treynor, rasio Sharpe mengevaluasi portofolio manajer berdasarkan tingkat hasil (rate of return) dan diversifikasi (seperti mempertimbangkan risiko portofolio total sebagaimana diukur dengan standar devisiasi pada denominatornya). Oleh karena itu, rasio Sharpe lebih sesuai untuk portofolio yang terdiversifikasi dengan baik, karena lebih akurat memperhitungkan risiko portofolio.


3. Pengukuran Jensen

Seperti pengukuran kinerja yang didiskusikan sebelumnya, pengukuran Jensen juga didasarkan pada CAPM. Dinamakan sesuai pembuatnya, Michael C. Jensen, pengukuran Jensen memperhitungkan kelebihan hasil (excess return) yang diperoleh sebuah portofolio melebihi hasil yang diharapkan. Pengukuran ini juga dikenal sebagai alpha.


Rasio Jensen mengukur seberapa banyak tingkat hasil portofolio ditabalkan pada kemampuan manajer untuk mendapatkan hasil di atas rata-rata. Sebuah portofolio dengan kelebihan hasil yang positif akan mempunyai alpha yang positif, sedangkan portofolio yang secara konsisten memberikan kelebihan hasil yang negatif akan mempunyai alpha yang negatif.

Formulanya dapat dijabarkan sebagai berikut:

          Jensen Alpha = Hasil Portofolio – Hasil Portofolio Acuan

Dimana : Acuan Hasil (CAPM) = Tingkat Hasil Bebas Risiko + Beta (Hasil Pasar – Tingkat Hasil Bebas Risiko)

Maka, jika kita sekali lagi mengasumsikan tingkat bebas risiko 5% dan hasil pasar 10%, berapa alpha untuk reksa dana berikut ini?


Manajer

Rata-rata Hasil Tahunan

Beta

Manajer D

11%

0,90

Manajer E

15%

1,10

Manajer F

15%

1,20


Pertama, kita hitung hasil yang diharapkan dari portofolio:

ER(D) = 0,05 + 0,90 (0,10 - 0,05) = 0,0950 atau hasil 9,5%
ER(E) = 0,05 + 1,10 (0,10 - 0,05) = 0,1050 atau hasil 10,50%
ER(F) = 0,05 + 1,20 (0,10 - 0,05) = 0,1100 atau hasil 11%

Kemudian, kita hitung alpha portofolio dengan mengurangi hasil yang diharapkan dari portofolio dari hasil aktualnya:

Alpha D = 11% - 9,5% = 1,5%
Alpha E = 15% - 10,5% = 4,5%
Alpha F = 15% - 11% = 4,0%

Manajer mana yang terbaik? Manager E melakukan yang terbaik karena, meskipun manajer F mempunyai hasil tahunan yang sama, diharapkan bahwa manajer E akan memperoleh hasil yang lebih rendah karena beta portofolionya lebih rendah dibandingkan portofolio F.   

Tentu saja, masing-masing tingkat hasil dan risiko sekuritas (atau portofolio) akan bervariasi sesuai periode waktu. Pengukuran Jensen membutuhkan penggunaan tingkat hasil bebas risiko yang berbeda untuk masing-masing interval waktu yang dipertimbangkan. Oleh karena itu, katakanlah Anda ingin mengevaluasi kinerja fund manager untuk periode lima tahun menggunakan interval tahunan; Anda juga harus menelaah hasil tahunan reksa dana minus tingkat bebas risiko yang sama. Sebaliknya, Treynor dan rasio Sharpe menelaah rata-rata hasil untuk suatu periode total yang dipertimbangkan untuk semua variabel di dalam formula (portofolio, pasar dan aset bebas risiko). Kendati demikian, seperti pengukuran Treynor, variabel alpha pada Jensen memperhitungkan premium risiko dengan terminologi beta (sistematik, risiko tidak terdiversifikasi) dan oleh karena itu mengasumsikan bahwa portofolio sudah terdiversifikasi dengan baik. Oleh karena itu, rasio ini akan memberikan hasil terbaik jika diaplikasikan dengan portofolio terdiversifikasi, seperti reksa.

 

Gramedia Ilmu Pengetahuan Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos