Friday, March 31, 2017

Sejarah dan Profil Singkat ADES (Akasha Wira International Tbk)

Posted by . at 8:00 AM
SEJARAH PERUSAHAAN
PT Ades Waters Indonesia pada awalnya didirikan dengan nama PT Alfindo Putra Setia, berdasarkan akta pendirian no 11,  pada tanggal 6 Maret 1985. Akta pendirian tersebut telah disetujui oleh Menteri Kehakiman pada tanggal 13 Juli 1985. Di tahun 2004, sesuai dengan surat pernyataan efektif dari ketua Bapepam, perusahaan melaksanakan penawaran umum terbatas kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) sejumlah 73.720.000 saham dengan nominal Rp 1.000 per saham dan dengan harga penawaran Rp 1.025. Saham-saham tersebut tercatat dei BES dan BEJ pada tanggal 27 Mei 2004. Pada tahun yang sama terjadi perubahan yang lain didalam perusahaan. Sebuah perusahaan patungan antara Nestle SA dan Refreshmen Product Services yang bernama Waters Partner Bottling SA (WPB), mengambil alih mayoritas saham di perusahaan, sehingga dari perushaan berubah dari PT Alfindo Putra Setia menjadi PT Ades Waters Indonesia. WPB sepenuhnya mendukung perusahaan untuk melayani konsumen di Indonesia. Kedua mitra tersebut menciptakan dan mengembangkan operasional bisnis yang kuat dan berkelanjutan dalam bisnis minuman bermerek. WPA juga memberikan dukungan penuh dalam bidang pemasaran, distribusi, keuangan, teknis, sumber daya manusia dan manajemen untuk mengembangkan bisnis secara meluas.

Pada tahun 2004, Water Partners Bottling S.A (WPB), merupakan perusahaan patungan antara Coca-cola dan Nestle (scr tidak langsung) mengambil alih mayoritas saham di Perseroan. Nama perusahaan diubah menjadi PT Ades Water Indonesia Tbk. Kemudian, pada tahun 2006, perusahaan mengubah status badan hukumnya dari perusahaan lokal non fasilitas menjadi perushaan modal asing berdasarkan dari persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pada tahun 2008, Sofos Pte, mengambil alih saham perusahaan secara tidak langsung melalui pembeliaan seluruh saham WPA, yang memiliki 542.347.113 saham yang mewakili 91.94% saham perusahaan.
Pemegang saham mayoritas Akasha Wira International Tbk adalah Water Partners Bottling S.A. (91,94%), merupakan perusahaan joint venture antara The Coca Cola Company dan Nestle S.A. kemudian pada tanggal 3 Juni 2008, Water Partners Bottling S.A. diakuisisi oleh Sofos Pte. Ltd., perusahaan berbadan hukum Singapura.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ADES adalah industri air minum dalam kemasan, industri roti dan kue, kembang gula, makaroni, kosmetik dan perdagangan besar. Kegiatan utama Akasha International adalah bergerak dalam bidang usaha pengolahan dan distribusi air minum dalam kemasan (merek Nestle Pure Life dan Vica) serta perdagangan besar produk-produk kosmetika.
Pada tanggal 2 Mei 1994, ADES memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) ADES kepada masyarakat sebanyak 15.000.000 saham dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham, dengan harga penawaran perdana Rp3.850,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 13 Juni 1994. Pada tahun 1994, untuk pertama kalinya perushaan menawarkan saham kepada masyarakat luas sejumlah 15.000.000 saham biasa dengan harga nominal saham Rp 1.000.


ANALISA KERUGIAN YANG DIALAMI
Merujuk pada laporan keuangan K3-2012 yang diterbitkan perusahaan :
  • Perusahaan mengalami kerugian bersih pada tahun 2007 dimana terlihat bahwa biaya produksi di atas pendapatannya. Selain itu juga besar kemungkinan perusahaan telah mengalami kerugian berlarut-larut sebelumnya (dimana kami tidak bisa men-track terlalu jauh kebelakang utk mengetahui sebabnya).
  • Pada 2008, Sofos Pte, Ltd mengambil alih saham Perseroan secara tidak langsung melalui pembelian seluruh saham milik Nestle dan Refreshment Product Services di WPB mewakili 91,94% saham.
    Plus melakukan tender offer dan mendapatkan sisa 8,06% saham, dan dari proses tersebut Sofos mendapatkan tambahan 0,2% saham Perseroan.
  • Di masa restrukturisasi perusahaan melakukan perampingan yg cukup besar dan juga menggelar right issue. Pengurangan karyawan yg terjadi lebih dari 1000 orang. Produksi ADMK kemasan galon jg dilakukan hanya pada daerah yg masih memberi keuntungan pada perusahaan. Di tahun 2008, restrukturisasi itu sudah menunjukkan hasil di mana EPS dari -929 turun menjadi -26.
·         ROA empat tahun terakhir di atas 9%, dengan catatan -16% pada 2008. ROE empat tahun terakhir di atas 20%, dengan catatan -59% pada 2008. ROE di atas 20% cukup bagus, namun terlihat tidak stabil.
·         Tidak ada defisit dalam 5 tahun terakhir: tidak terpenuhi. Perusahaan mengalami rugi dalam laporan keuangan tahun buku 2007 dan 2008.
·         Pertumbuhan laba: ada kenaikan laba lebih besar, setidaknya rata-rata lima tahunan 17%, Graham menentukan 30% untuk investor defensif: terpenuhi (dengan catatan). Namun pertumbuhan laba tidak stabil dan pernah mengalami kerugian dalam lima tahun terakhir.
·         Kualitas keuangan dan struktur modal, hal ini meliputi:
·         Aset lancar setidaknya 2 kali hutang lancar: terpenuhi, aset lancar dibanding hutang lancar 2,6.
·         Hutang jangka panjang tidak lebih dari aset lancar (modal kerja): terpenuhi.
·         Hutang sebaiknya tidak lebih dari 2 kali ekuitas (DER kurang dari 2x):terpenuhi, DER tercatat 0,9. Sejarah jangka panjang perusahaan DER berada pada kisaran 1,5 hingga 2,56.
·         Perilaku manajemen:
·         Ada pembagian dividen dalam 10 tahun terakhir: terpenuhi (dengan catatan). Namun dividen terakhir dibagikan pada 2003 untuk tahun buku 2002.
·         Valuasi:
·         PER kurang dari 15x: terpenuhi. Dengan EPS K3-2012 sebesar 109 (atau 145 disetahunkan), dan harga saham terakhir 2125, maka PER terakhir adalah 14,65, namun ini mendekati batas kita.
·         Harga saham: kurang dari 120% nilai buku (PBV kurang dari 1,2): tidak terpenuhi. BV terakhir perusahaan sebesar 322.48, maka PBV perusahaan adalah 6,5x.
·    Margin of Safety (MoS) rata-rata 30% untuk perusahaan mapan, MoS di atas 50% untuk perusahaan berkembang: tidak diukur karena kurang memadai dengan banyak persyaratan utama di atas tidak terpenuhi serta menurut saya PER sudah terlalu tinggi. Bila pertumbuhan perusahaan tidak stabil maka akan sia-sia saja menggunakan valuasi apa pun karena sifat valuasi tidak bisa stabil, maka ketika kinerja berlawanan dengan arah valuasi kita hasilnya akan mencelakakan investor.




0 comments:

Post a Comment

 

Gramedia Ilmu Pengetahuan Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos