Adapun Gambaran Rumus dari Ukuran Kinerja Saham (Portofolio)
Terdapat 3 jenis ukuran yaitu :
1. Pengukuran Treynor
Jack L. Treynor adalah orang pertama yang
menyediakan pengukur komposit kinerja portofolio yang juga memperhitungkan
risiko. Tujuan Treynor adalah menemukan ukuran kinerja yang dapat diaplikasikan
kepada seluruh investor, tidak mempedulikan preferensi risiko personal. Ia
menyarankan bahwa ada komponen risiko, yakni risiko yang dihasilkan dari
fluktuasi di pasar dan risiko yang muncul dari fluktuasi sekuritas individual.
Treynor memperkenalkan konsep garis pasar
sekuritas, yang mendefinisikan hubungan antara hasil portofolio dan tingkat
hasil pasar, dimana kemiringan garis mengukur volatilitas relatif antara
portofolio dan pasar (yang diwakili dengan beta). Koefisien beta secara
sederhana mengukur volatilitas saham, portofolio atau pasar itu sendiri.
Semakin besar kemiringan garis, semakin baik tradeoff risiko-hasil.
Pengukuran Treynor, juga dikenal sebagai imbalan
kepada rasio volatilitas, dapat dengan mudah didefinisikan sebagai:
Hasil Portofolio –
Tingkat Bebas-Risiko) / Beta
Pembilang mengidentifikasi premium risiko dan
denominator berkaitan dengan risiko portofolio. Nilai yang dihasilkan
menampilkan hasi portofolio per unit risiko.
Untuk lebih memahami bagaimana cara bekerjanya,
anggaplah hasil tahunan S&P 500 (portofolio pasar) adalah 10%, sedangkan
rata-rata hasil tahunan Treasury bills (contoh baik tentang tingkat bebas
risiko) adalah 5%. Kemudian asumsikan Anda mengevaluasi tiga portofolio manajer
yang berbeda dengan hasil 10 tahun sebagai berikut:
Manajer
|
Rata-rata Hasil Tahunan
|
Beta
|
Manajer A
|
10 %
|
0,90
|
Manajer B
|
14 %
|
1,03
|
Manajer C
|
15 %
|
1,20
|
1. Kini,
Anda dapat menghitung nilai Treynor masing-masing, sebagai berikut:
T (pasar) = (0,10 - 0,05) / 1 = 0,056
T (manager A) = (0,10 - 0,05) / 0,90 = 0,056
T (manager B) = (0,14 - 0,05) / 1,03 = 0,087
T (manager C) = (0,15 - 0,05) / 1,20 = 0,083
T (pasar) = (0,10 - 0,05) / 1 = 0,056
T (manager A) = (0,10 - 0,05) / 0,90 = 0,056
T (manager B) = (0,14 - 0,05) / 1,03 = 0,087
T (manager C) = (0,15 - 0,05) / 1,20 = 0,083
SSemakin tinggi ukuran Treynor, semakin baik
portofolio. Mungkin Anda pernah mengevaluasi manajer portofolio (atau
portofolio) hanya berdasarkan kinerja, dan secara tidak sengaja
mengidentifikasi Manajer C memberikan hasil yang terbaik. Kendati demikian,
ketika mempertimbangkan risiko yang diambil masing-masing manajer untuk
memperoleh hasil mereka masing-masing, Manajer B menunjukkan hasil yang lebih
baik. Dalam kasus ini, ketiga manajer itu berkinerja lebih baik daripada pasar
agregat.
Karena pengukuran ini hanya memperhitungkan
risiko sistematik, maka diasumsikan bahwa investor sudah mempunyai portofolio
yang terdiversifikasi dengan baik dan, oleh karena itu, risiko tidak sistematik
(atau risio yang dapat didiversifikasi) tidaklah dipertimbangkan. Akibatnya,
pengukuran kinerja ini sebaiknya hanya digunakan oleh investor yang memiliki
portofolio yang terdiversifikasi.
Rasio Sharpe hampir identik dengan pengukuran
Treynor, kecuali bahwa pengukuran risiko adalah standar deviasi portofolio,
bukan mempertimbangkan risiko sistematik, yang ditampilkan oleh beta.
Pengukuran yang diperkenalkan oleh Bill Sharpe ini, terkait erat dengan
pekerjaannya pada model penetapan harga aset modal (capital asset
pricing model/CAPM) dan diperjelas dengan
menggunakan risiko total untuk membandingkan portofolio terhadap garis pasar
modal.
(Hasil Portofolio – Tingkat Bebas Risiko) / Standar Deviasi
Dengan menggunakan contoh Treynor di atas, dan
asumsi bahwa S&P 500 mempunyai standar deviasi 18% selama periode 10 tahun,
mari kita hitung rasio Sharpe untuk portofolio masing-masing manajer berikut
ini:
Manager
|
Hasil Tahunan
|
Devisiasi Standar Portofolio
|
Manajer X
|
14%
|
0,11
|
Manajer Y
|
17%
|
0,20
|
Manajer Z
|
19%
|
0,27
|
S(market)
= (0,10 - 0,5) / 0,18 = 0,278
S(manajer X) = (0,14 - 0,05) / 0,11 = 0,818
S(manajer Y) = (0,17 - 0,05) / 0,20 = 0,600
S(manajer Z) = (0,19 - 0,05) / 0,27 = 0,519
Sekali lagi, kita menemukan bahwa portofolio
terbaik tidak harus memiliki hasil yang tertinggi. Sebaliknya, portofolio
dengan hasil risiko disesuaikan (risk-adjusted return) paling superior, atau dalam kasus ini dana yang
dikelola oleh manajer X.
Tidak seperti pengukuran Treynor, rasio Sharpe
mengevaluasi portofolio manajer berdasarkan tingkat hasil (rate of
return) dan diversifikasi (seperti
mempertimbangkan risiko portofolio total sebagaimana diukur dengan standar devisiasi
pada denominatornya). Oleh karena itu, rasio Sharpe lebih sesuai untuk
portofolio yang terdiversifikasi dengan baik, karena lebih akurat
memperhitungkan risiko portofolio.
3. Pengukuran Jensen
Seperti pengukuran kinerja yang didiskusikan
sebelumnya, pengukuran Jensen juga didasarkan pada CAPM. Dinamakan sesuai
pembuatnya, Michael C. Jensen, pengukuran Jensen memperhitungkan kelebihan
hasil (excess return) yang
diperoleh sebuah portofolio melebihi hasil yang diharapkan. Pengukuran ini juga
dikenal sebagai alpha.
Rasio Jensen mengukur seberapa banyak tingkat
hasil portofolio ditabalkan pada kemampuan manajer untuk mendapatkan hasil di
atas rata-rata. Sebuah portofolio dengan kelebihan hasil yang positif akan
mempunyai alpha yang positif, sedangkan portofolio yang secara konsisten
memberikan kelebihan hasil yang negatif akan mempunyai alpha yang negatif.
Formulanya dapat dijabarkan sebagai berikut:
Jensen Alpha = Hasil
Portofolio – Hasil Portofolio Acuan
Dimana : Acuan Hasil (CAPM) = Tingkat Hasil
Bebas Risiko + Beta (Hasil Pasar – Tingkat Hasil Bebas Risiko)
Maka, jika kita sekali lagi mengasumsikan
tingkat bebas risiko 5% dan hasil pasar 10%, berapa alpha untuk reksa dana
berikut ini?
Manajer
|
Rata-rata Hasil Tahunan
|
Beta
|
Manajer D
|
11%
|
0,90
|
Manajer E
|
15%
|
1,10
|
Manajer F
|
15%
|
1,20
|
Pertama,
kita hitung hasil yang diharapkan dari portofolio:
ER(D) = 0,05 + 0,90 (0,10 - 0,05) = 0,0950 atau
hasil 9,5%
ER(E) = 0,05 + 1,10 (0,10 - 0,05) = 0,1050 atau
hasil 10,50%
ER(F) = 0,05 + 1,20 (0,10 - 0,05) = 0,1100 atau
hasil 11%
Kemudian, kita hitung alpha portofolio dengan
mengurangi hasil yang diharapkan dari portofolio dari hasil aktualnya:
Alpha D = 11% - 9,5% = 1,5%
Alpha E = 15% - 10,5% = 4,5%
Alpha F = 15% - 11% = 4,0%
Manajer mana yang terbaik? Manager E melakukan
yang terbaik karena, meskipun manajer F mempunyai hasil tahunan yang sama,
diharapkan bahwa manajer E akan memperoleh hasil yang lebih rendah karena beta
portofolionya lebih rendah dibandingkan portofolio F.
Tentu saja, masing-masing tingkat hasil dan
risiko sekuritas (atau portofolio) akan bervariasi sesuai periode waktu.
Pengukuran Jensen membutuhkan penggunaan tingkat hasil bebas risiko yang
berbeda untuk masing-masing interval waktu yang dipertimbangkan. Oleh karena
itu, katakanlah Anda ingin mengevaluasi kinerja fund manager untuk periode lima tahun menggunakan interval tahunan;
Anda juga harus menelaah hasil tahunan reksa dana minus tingkat bebas risiko
yang sama. Sebaliknya, Treynor dan rasio Sharpe menelaah rata-rata hasil untuk
suatu periode total yang dipertimbangkan untuk semua variabel di dalam formula
(portofolio, pasar dan aset bebas risiko). Kendati demikian, seperti pengukuran
Treynor, variabel alpha pada Jensen memperhitungkan premium risiko dengan
terminologi beta (sistematik, risiko tidak terdiversifikasi) dan oleh karena
itu mengasumsikan bahwa portofolio sudah terdiversifikasi dengan baik. Oleh
karena itu, rasio ini akan memberikan hasil terbaik jika diaplikasikan dengan
portofolio terdiversifikasi, seperti reksa.
